' Badai's posts with tag: [kisah]abdi
Kupandangi kuku jari kelingking yang berpoles ungu. Sejenak sesal kenapa bukan jari tengah saja yang diwarnai, agar bisa dipakai memaki namun tetap trendi.
beberapa saat sebelumnya
Kucelupkan jari di wadah tinta dengan geram hingga nyaris tumpah.
beberapa saat sebelumnya
Kumasukkan lipatan kertas itu ke dalam kotak. Bagai membayar ongkos kamar kecil seusai buang hajat. Bapak tua penunggu kotak itu--mungkin tersenyum mungkin tidak--bagaikan siluet sahaja di mataku karena tubuhnya memunggungi sinar mentari.
beberapa saat sebelumnya
Di bilik mungil itu kulampiaskan semua. Kubuka dan kurentangkan lebar-lebar apa yang ada di hadapanku. Tusuk! Tusuk! Tusuk! Lalu kurapikan sekenanya.
beberapa saat sebelumnya
"Berarti suara saya tidak sah dong, pak!" cetusku dongkol. "Sah kok, gak apa-apa," sahut petugas itu, tampak malu hati karena lembaran data di hadapannya ternyata tidak valid. Dia malah menyorongkan kartu pemilih agar selekasnya aku menyoblos.
beberapa saat sebelumnya
Petugas itu lantang menyebut namaku dari daftar pemilih yang ada di hadapannya, "Ibu fulan bin fulan!" Aku terkaget-kaget. Bujubuneng, kenapa nama gw jadi ada tambahan 'ibu'? "Bapak fulan bin fulan, kali!" ralatku yang langsung disambut tawa berderai pengunjung TPS.
beberapa saat sebelumnya
Tampaknya memang terdapat kekeliruan cetak di biodata pemilih pilkada yang baru lewat. Kesalahan vital karena menyangkut alat vital. Di situ tertera kalau jenis kelaminku perempuan.
Bleh, sejak kapan gw ganti kelamin?! *^">~&$^&*(@!#$
Sebelumnya telah dikisahkan bahwa Badai cs terperangkap dalam pesona kupu-kupu malam, sorry, maksudnya kupu-kupu alam, dalam petualangan mereka di lembah gunung kembar. Apa yang terjadi selanjutnya, sila simak di sini.....
"Ayo kita kemon!" seru manusia punggung tiba-tiba menyadarkan lamunan kami. Dengan tongkat di tangan, dia melangkah tegap di muka bagai mayorette dari gua hantu. ;pKami pun melangkah meninggalkan jerat kupu-kupu pemikat di jembatan tua itu. Gemuruh air di kejauhan menandakan letak air terjun sudah tak jauh. Udara terasa makin lembab. Jalan setapak makin basah dan licin.Oya, setelah berkutat sekian lamanya memasuki hutan menjauhi peradaban, ternyata masih ada sinyal hape yang mampu menembus belantara. Dan kasihan sekali oknum yang pake sinyal kuat, karena wiken di hutan begini masih ditelponin buat ngeberesin kerjaan. Gak cuma sekali, tapi beberapa kali, dan udah gitu dia musti nelponin kliennya juga.
Saya jadi ingat salah satu iklan telekomunikasi dari majalah luar yang tagline-nya begini: THE GOOD THING IS: YOU'RE ALWAYS CONNECTED TO THE OFFICETHE BAD THING IS: YOU'RE ALWAYS CONNECTED TO THE OFFICEGrrrr, rupanya kondisi itulah yang sedang dialami oleh oknum kita saat ini. ^_^v
Eniwei, jalan setapak berakhir di sebuah tanah lapang yang hangat terkena sinar matahari. Terdapat pula deretan warung jajanan, dan beberapa gelintir pengunjung yang herannya tidak kami temui satupun dalam perjalanan trekking tadi.Tunggu, di ujung sana terdapat sebuah plang bertuliskan:"Pangkalan Ojek, 50 m"Gubrax! Susah payah trekking 2 km ternyata ada pula jalur pintas untuk ojek? Kok bisa? KOK BISA??? *histeris*Namun gemuruh air terjun yang bertalu-talu seakan memanggil kami untuk selekasnya bergabung. Segala gundah hilang sudah. Bergegas kami menyusuri sungai berbatu menuju hulu.Yes, akhirnya terhampar di hadapan kami curahan air terjun yang deras berbuih. Cipratan airnya bagai kabut, terasa dingin dan segar. Malah terdapat lengkung pelangi mungil di salah satu sudutnya. OMG, Curug Sawer memang indah nian.
Cukup lama kami berada di sana, bermain air, foto-foto, foto-foto, dan foto-foto. Kkkkk! Niat main monopoli hilang sudah.Sangat disayangkan, lapak-lapak dagangan di sepanjang jalan menuju air terjun sedikit banyak mengurangi estetika alam. Belum lagi banyak sampah berserakan di sela-sela bebatuan. Dasar Indon, kenapa sih pada suka buang sampah sembarangan! :(Tak terasa, hari telah merambat petang ketika kami mulai merintis jalan setapak pulang. Tunggu, kenapa gak naik ojek aja?Ada beberapa alasan:1. gak afdol kalo pulangnya gak menempuh jalur trekking tadi2. aksi protes sama ojekers yang ternyata punya rute sendiri3. ongkosnya mahal (20rb per orang)4. waspada itu perlu, kalo ternyata ojekers punya niat lain gimana? bisa aja di tengah jalan kita dirampok, lalu disekap di warung remang, dan dijadikan budak nafsu *halusinasi menjadi-jadi*
Alamak, ternyata rute pulang lebih berat. Jalurnya lebih mendaki. Jalanan lebih licin habis diguyur hujan. Malah di beberapa spot jalurnya kini berubah menjadi sungai kecil. Belum ditambah kehadiran pacet-pacet mungil yang kehausan darah. Benar-benar menguras stamina dan konsentrasi.Akhirnya dengan pengorbanan keringat dan darah (dan ingus) kami pun tiba jua di peradaban. Dan saya menanggung derita lain: gejala flu yang sudah mendera sejak malam sebelumnya akhirnya mengambil alih situasi. Srooot! Srooot!Ditambah kepala pening yang makin pusing karena sejak tadi tidak menemukan tempat sampah. Hellooooooo, di Taman Nasional tidak ada tempat sampah loh!Dengan masygul saya memasukkan kantung plastik berisi sampah-sampah kami selama perjalanan tadi ke dalam mobil, untuk dibuang nanti kalau menemukan tempat sampah di perjalanan pulang.Padahal sampah2 ini nantinya dibakar atau dikubur, sementara wadah-wadah styrofoam seperti bekas Pop Mie atau makanan instan lainnya kalo dibakar malah melepas CO2 ke atmosfer, atau kalau dikubur malah mencemari tanah karena tak bisa diurai. Huhuhu, maafkan kami, bumiku. T_TKami pun pulang meninggalkan Cisaat dengan kesadaran baru akan pentingnya 'beradab' dengan alam. Gunung Gede-Pangrango telah memberi kami makna hidup dan gairah untuk kembali. Bayangkan, menyusuri lembahnya saja sudah mengasyikkan, apalagi nanti menyesapi puncak kembarnya...:)TAMAT
Yang satu lebih mencuat Yang satu lebih merekah Kedua puncaknya membakar gairah
Menuju lembahnya aku kesana Menyibak dan mencumbu lekuknya Telanjanglah aku oleh pesona

Alkisah kami terdampar di Cisaat, Sukabumi, di lembah gunung kembar Gede-Pangrango. Awalnya hendak berpiknik sambil main monopoli di tepi Situ Gunung, sebuah danau kecil di lembah gunung. Tapi selama perjalanan ke sana malah timbul rencana lain berupa kunjungan ke Curug Sawer, air terjun di selangkangan gunung (secara letaknya menyempil diapit kaki gunung ;p). Hahaha, tapi itu nantilah, sekarang kita fokuskan dulu tujuan utamanya.Syahdan, tibalah kami di Situ Gunung. Akses ke sana tidak sulit, dan cukup dekat dari peradaban. Terakhir kemping di sini (sekitar sewindu lalu) danaunya masih terkesan liar, namun alami, dengan dermaga kayu tua yang menjorok ke tengah danau. Namun kini jauh berbeda, tepian danau di dekat bendungan sudah diplester beton, dan dermaga kayu nan romantis itu sudah tak ada. T_T
Namun keindahan Situ Gunung tetap abadi. Danau hijau kelam bagai misteri, dikelilingi hutan pegunungan yang menjulang. Riak air berpantulan, seiring desau angin menyejukkan. Aroma pinus memenuhi udara, ditingkahi bebunyian satwa hutan yang bersahutan.Piknik pun digelar. Bekal makan siang seadanya terasa nikmat sahaja.
Tapi sepertinya tak bisa berlama-lama di sini, apalagi untuk bermain monopoli. Tak jauh dari tempat kami piknik sedang diadakan kegiatan outbound sebuah perusahaan. Selain agak2 terusik oleh suara huru-hara mereka, ternyata baru ketahuan kalau banyak sampah berserakan di beberapa lokasi bekas acara. Benci aku benci! T_TAkhirnya dimantapkanlah rencana kunjungan ke Curug Sawer. Jaraknya cuma 2 km dari peradaban, asli jalan kaki naik turun gunung!
Welcome to the jungle! Singkat kata, kami telah meninggalkan lokasi danau, dan memulai trekking ke air terjun. Mulanya biasa saja, kami saling bercanda. Lama-lama mulai tak biasa, masing-masing sibuk cari napasnya (ngos-ngosan, sob!). Aroma khas hutan menguar di udara. Lembab. Pepohonan tua berlumut. Denging serangga mengisi kuping. Adakalanya suasana hening, namun kesunyian itupun tetap terasa mendenging.Di tengah perjalanan, kami melintasi sebuah jembatan tua yang nyaris tersembunyi di balik lebatnya tetumbuhan menjalar. And guess what, dua sosok kupu-kupu mungil tiba-tiba saja datang menari-nari di sekeliling kami. Seekor diantaranya bahkan hinggap di telapak tangan dengan jinak. So sweet...

Sebenarnya kalau diperhatikan, jembatan tua itu bagaikan akses masuk menuju kerajaan gunung kembar. Pepohonan yang mengapit di kedua sisi bagaikan gerbangnya. Akar-akar gantung bagaikan tirainya. Dan kupu-kupu ini bagaikan peri-peri hutan yang diutus menyambut kedatangan kami. Bukankah itu suatu pertanda baik? *mulai berhalusinasi*Ah, tapi kami tak mau terlena. Siapa tau kupu-kupu itu cuma tipu muslihat penyihir jahat yang hendak menggiring kami masuk ke dalam perangkap. Lantas kami semua dimasukkan ke dalam sumur diiringi lagu Genjer-Genjer. Hiiii! *halusinasi makin liar*.....Lalu apa yang terjadi selanjutnya dengan Badai cs? Mampukah mereka menumpas sihir jahat penyihir gunung kembar dan tiba di air terjun kebajikan? Nantikan segera kisah selanjutnya ekslusif hanya di MP!
Teman, kau dimana? Panggilan tak terangkat, pesan tak berbalas. Marahkah kau pada saya? Atau malu?... Awalnya kau pintaku datang, memelas karena dikejar waktu, dan meminta dibuatkan dua buah desain begini begitu. Pada mulanya saya enggan karena waktu yang terbatas. Namun setelah beberapa penyesuaian (dan melihat betapa tak berdayanya dirimu di bawah kejaran deadline), akhirnya kita pun sepakat berkongsi.
Saya sudah dua kali menanyakan tentang perjanjian kerja, dan sudah dua kali pula kau yakinkan saya bahwa hal itu bisa diatur belakangan. Deadline sudah didepan mata. Apalagi kau pastikan bahwa dirimulah yang memegang proyek ini. Dan saya percaya.Itulah kesalahan saya.Jangan pernah percaya siapapun, termasuk teman baik, untuk urusan bisnis tanpa hitam di atas putih. Hukumnya mutlak.Demikianlah, cuma dalam tiga hari saya menuntaskan pekerjaan darimu terlebih dahulu. Lengkap dengan 4 buah bonus desain hasil pengembangan dari materi dasar yang kau inginkan.Plus logo perusahaan yang saya perbaiki dalam format freehand, jpeg dan png sekaligus, karena sebelumnya kau cuma punya format jpeg in poor quality. Semuanya saya lakukan tanpa pamrih, karena kau teman baik saya.Serah terima pun dilakukan, yang mestinya dilanjutkan pembayaran tunai. Ternyata kemudian katamu dana belum cair, jadi honor saya belum bisa dibayarkan. Ya sudah, saya percaya saja. Pesan saya, kasih kabar saja kalau uangnya sudah ditransfer.Seminggu lebih berlalu ketika kau kabari bahwa dari dua materi desain yang dipesan, cuma satu buah yang akan dipakai, jadi honor saya cuma dibayarkan setengah. What???Mestinya kan kalau sudah pesan dua loyang chocolate devil, ya pemesan tetap harus bayar seharga dua loyang dong (itu sih sudah resiko pemesan kalau yang satu loyang mau termakan atau tidak). Kan logikanya begitu.Kecewa memang, tapi berhubung tak ada bukti tertulis, maka saya tidak mau memperpanjang masalah. Walau bagaimanapun kau teman baik saya. Lagipula kau bilang pembayaran akan dilakukan secepatnya.Seminggu lebih kembali berlalu ketika iseng saya cek rekening, ternyata ada uang masuk sejumlah seperempat honor yang kau janjikan. Merasa tidak yakin, saya coba konfirmasi pada dirimu. Tanpa beban kau bilang, kantormu akhirnya memutuskan cuma memakai satu dari 4 buah bonus desain yang saya buat. Jadi saya cuma dibayarkan seperempat.Padahal saya sama sekali tidak mengenakan charge tambahan untuk bonus desain, yang saya minta awalnya cuma pembayaran untuk dua buah desain utama sesuai pesanan. Jadi dengan kata lain, jika saya memberi bonus 10 buah desain, dan cuma dipakai satu, maka saya cuma dihargai sepersepuluh dari kesepakatan harga, begitu?
That's it! Perhitungan macam mana ini? Benar-benar pelecehan profesi. Saya tahu intonasi suara saya meninggi sewaktu berkonfrontasi mengenai hal ini.Entahlah, mungkin kau tersinggung, ikut marah, ikut kesal, ikut bersalah, saya tidak tahu. Tapi yang jelas sejak saat itu kau tidak bisa lagi dihubungi.Sebenarnya saya bisa datang ke kantormu, dan meminta kejelasan masalah ini. Tapi kedudukan saya lemah karena tiada bukti hitam di atas putih. Lagipula saya tahu pasti kau akan menanggapi kedatangan saya dengan kepala tidak dingin sehingga intonasi suaramu akan meninggi dan mukamu yang putih itu akan memerah dan rekan2 sejawatmu akan memerhatikan dan petugas sekuriti akan berdatangan, jadi saya putuskan untuk tidak bertandang ke sana. Tidak lagi.... Padahal teman, masalah honor itu kini sudah saya ikhlaskan. Saya sudah mendapat pelajaran dari kesalahan. Biarlah Yayasan Sosial tempat kau bekerja itu mendapat berkah biar bisa terus berderma. Saya cuma mau kau tahu, saya sedih karena niat baik untuk membantu dirimu malah berujung pada retaknya pertemanan kita.

2 Februari 2007 ...saya tunda kunjungan ke Jakarta hari ini ...ada janji-janji yang harus ditangguhkan hari ini ...ada pesan-pesan atau panggilan yang tak sampai hari ini ...ada rekan-rekan yang tiada kabar hari ini ...seandainya mereka sedang dalam kesusahan hari ini ...saya hanya bisa mendoakan dari jauh hari ini ...hanya maaf yang bisa disampaikan lewat tulisan hari ini 2 Februari 2002 saya perlu ketabahan untuk masuk Jakarta lima tahun lalu... berjam-jam dalam diam di jalan bebas hambatan menuju ibukota lima tahun lalu... rekan saya juga tiada kabar lima tahun lalu... ternyata dia harus menginap dalam bis lima tahun lalu... yang terjebak di atas jembatan layang lima tahun lalu... tak pernah terpikir oleh saya lima tahun lalu... bahwa semuanya akan terulang seperti lima tahun lalu...
...dan saya pun bertutur
manusia punggung tinggal seorang diri di gudang tua hidup di antara ruang-ruang mati gelap dan hampa
tempo hari saya berkunjung ke kediamannya purnama dan bintang-bintang di langit sana tak tampak lagi ketika kami masuk ke dalamnya
...dan adik saya pun bertutur
lihat tidak, ketika kami datang dan membuka pintu gudang ada yang keluar meradang hanya saja kami tak memandang
sesosok pucat kurus kering leher patah ke samping berjalan miring sepanjang dinding cepat seperti kepiting
...dan manusia punggung pun bertutur
oh, pastinya penghuni pohon depan gudang rambutnya lebat terurai panjang tubuhnya gemertak seperti patah tulang mungkinkah sadako yang sedang bertualang
...dan adik saya pun bertutur
ya, dan dia kini sedang memandangi kita dari balik rimbun pohon yang disinari purnama
maka lekaslah kita pulang biar manusia punggung yang menghadang
...
..
.
angin dingin menusuk dibawah purnama ketika kami beranjak meninggalkan gudang tua, manusia punggung, dan sosok penghuni pohon itu
letih
hening
hampa
...
si bocah berkerjap mata
haruskah ia muncul kembali kenapa ia harus muncul kembali
si bocah mencari
bijak dimana? riang kemana? tekad mana?
si bocah pun tergugu
hanya jiwa yang menjawab mereka lelah, nak biarkan jeda sejenak
si bocah terisak
tapi kenapa aku yang dipanggil jika mereka lelah?
pertanyaan tentang hidup terkadang begitu berat, nak hanya kau yang tanpa beban bisa menghadapi hidup
aku kesepian airmata si bocah menitik
menangislah, nak sekedar mengingatkan ke-aku-an bahwa kita hanya manusia bahwa tubuh hanya fana
...
ketika bijak, riang, tekad telah kembali si bocah sudah tidak ada
ia sedang dalam buaian, sahut jiwa
ayo, sekarang kalian kembali bekerja hadapi hidup dengan semangat, ya
...
setelah ditahan kemudian dikeluarkan, ah lega...
eh, tapi kenapa orang di sebelah mencurigakan begitu?
curi-curi pandang sampe lehernya kejang
apa dia belum pernah lihat pedang panjang?
mau ngajak perang?
dasar jalang!
*beware: voyeurism at the rest room*
JUMAT sore kemarin, usai presentasi, tak sangka big boss minta quotation form-nya sudah harus diterima paling lambat hari minggu. Pontang-pantinglah awak, mengacaubalaukan semua acara akhir pekan kemarin...
Adri, saya gak bisa ikutan hang out di Lara Jonggrang
Anna, saya gak sempat bantu2 di IndepenDance Competition, dan gak bisa nemenin kamu lari pagi esoknya
Diana, untuk kesekian kalinya jadwal kita meleset, kali ini saya gak bisa nemenin kamu ke Indocomtech
Gun & Lina, saya gak bisa datang ke resepsi, semoga membentuk keluarga sakinah, mawadah, warahmah [Amien]
Mandiri Gank, saya gak bisa gabung ke acara 'thank god it's friday so have fun go mad' kalian
Rief, saya belum sempat jenguk, get well soon!
Windu, saya gak bisa ikut kumpul2, swear nyesel banget padahal saya udah dapat film bagus dari Subtitles buat tontonan rame2 nanti
dan
teman2 lainnya yang tak terucap nama yang mungkin sempat saya kecewakan akhir pekan kemarin
"MAAFKAN SAYA YA..."
* membungkuk dalam2 ala jepun *
Peristiwa itu bertanggal 1 Juni 1964 Lautan surut, angin berhembus pilu memutar kolecer [kincir angin] di tebing-tebing bagaikan bunyi tangisan, pepohonan meranggas, tetanaman layu, bebungaan gugur, hutan raya sunyi tanpa bebunyian satwa.
Hari itu bertepatan dengan wafatnya kakek buyut saya.
Peristiwa ini bertanggal 28 Agustus 2006 Makam beliau terletak di sebuah bukit karang di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Perjalanan kesana adalah suatu penaklukan alam: tanjakan curam, bebatuan cadas, sesemakan liar, pepohonan tumbang, binatang hutan, you name it... Semenjak ingatan saya yang paling dini hingga kali terakhir, makam beliau secara fisik tidak pernah bisa ditemukan.
Setiap kali ke sana selalu saja kami kehilangan patokan: batu nisan yang raib, pohon kemboja yang berpindah, hingga jalan setapak yang selalu berubah. Percaya tak percaya, namun demikianlah adanya. Padahal letaknya masih dalam satu lahan pemakaman, meskipun terpencil di tengah hutan. Penduduk asli yang kami tanyai pun selalu memberi petunjuk arah yang berbeda-beda.
Terakhir kemarin pun kondisinya lebih sulit karena daun-daun jati yang berguguran menutupi hampir seluruh permukaan tanah. Tampaknya kami harus menerima kenyataan bahwa makam kakek buyut saya kini sudah menyatu dengan bukit karang itu sendiri.
Apa yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Tak peduli betapa sakti, betapa berkuasa, betapa berjaya seseorang pada akhirnya akan kembali ke pangkuan bumi. Hikmah ziarah kubur adalah mengingat mati. Dan setiap usai ziarah, saya jadi merasa lebih menghargai hidup.
Perjalanan menuruni bukit begitu indah bagai lukisan. Terbentang di hadapan kami pemandangan laut selatan yang demikian biru memesona. Dan saya merasa lebih tercerahkan.
Insya Allah lain waktu kami akan kembali. Untuk mengingat mati.   
 kawan,
spasang spatu saya sudah aus solnya sudah tipis rstluiting-nya sudah copot kanan kiri lima tahun lbih saya pakai buat nginjak bumi, gnangan air, aspal panas buat krja, kondangan, brgaya buat tndang krikil buat mnutup pintu buat lmpar kucing garong buat tambah tinggi bbrapa cm
dulu saya smpat injak paku mnmbus sol spatu, kaos kaki, hingga mnylip di samping ibu jari syukurlah tak luka sdikit pun kcuali bkas tanda kcil di sol bawah spatu kini sudah tambah rompal sana-sini
cpat atau lambat spasang spatu saya harus prgi tanpanya saya bagai kata khilangan huruf makanya doakan saya dapat pngganti yang stia sbagai kkasih hati maaf, maksudnya kkasih kaki
;p 
 Sungai di belakang rumah sudah jadi bagian dari kehidupan kami sejak kali pertama petak itu dipatok. Atau tepatnya rumah kamilah yang menjadi sebahagiaan kecil dari kehidupan sungai itu sendiri. Sungai di belakang rumah adalah arena bermain kami semasa kecil. Saya bersama kakak dan adik kerap mandi-mandi di sana, menyelami air yang jernih dan segar, menyesapi aroma bebungaan liar dari gerumbulan semak di tepian, mengejar capung dan kupu di bawah langit biru hingga terengah-engah, dimana udara bersih yang kami hirup terasa sejuk hingga ke rongga hidung. Sungai di belakang rumah memberi kami pelajaran alam yang menarik. Saya sempat mempunyai akuarium sendiri dari toples selai, atau kaleng kue kalau terpaksa. Para penghuni akuarium saya dapatkan dari sungai: ikan gendut, julung-julung, mujair, nila, gabus, gupi dengan ekor metaliknya yang berwarna-warni, atau sekedar siput dan udang-udang kecil. Kalau sudah bosan saya kembalikan mereka ke sungai, dan mencari pengganti yang baru, meskipun jenisnya itu-itu juga. Sungai di belakang rumah menjadi pembelajaran dalam mencari makan. Usai bermain biasanya kami selalu membawa hasil panen sendiri berupa kerang-kerangan air tawar seperti kijing dan remis. Biasanya ibu akan membuatkan sup kerang dengan bumbu serai dan kunyit yang menambah aroma. Daging kerangnya begitu lezat dan manis, dengan kuah kaldu panas nan sedap. Apalagi dinikmati ketika malam menjelang, ketika jangkrik dan tonggeret mulai bernyanyi dari rumpun bambu, ditingkahi bunyi kodok dan gemercik aliran sungai. Kunang-kunang terbang berkelap-kelip bagai peri-peri mungil yang melenggang-lenggok centil. Sungai di belakang rumah juga menyimpan kehidupan alam lain. Suatu ketika nenek menginap di rumah kami, dan tengah malam beliau terbangun oleh bunyi senandung dari arah sungai. Nenek pun beranjak mengintip dari balik jendela, dan di sana, di aliran sungai nan pucat tersiram cahaya purnama, tampak sesosok wanita tua berjalan di atas air menyusuri hulu sambil terkekeh-kekeh. Apa yang semula dikira senandung adalah tawanya yang berderai-derai ditingkahi bunyi kecipak air. Sungai di belakang rumah bagai saksi kehidupan kami dari kecil hingga dewasa. Ia menjadi saksi ketika kami bertelanjang bulat mencumbu riak-riaknya. Ia menjadi saksi ketika kami bertumbuh besar dan semakin jarang mengajaknya bermain. Ia menjadi saksi betapa kami kini bahkan tak mengingatnya lagi, atau sekedar menyadari keberadaannya. Sungai di belakang rumah masih ada, tapi bukan sungai yang dulu lagi. Ia sudah berubah sejak para pendatang itu bermunculan, dengan pemukiman dan lahan industri baru, dengan banyak sampah dan limbah yang dibuang ke alirannya. Sungai di belakang rumah masih mengalir, tapi sudah tidak hidup lagi. Sungai di belakang rumah cuma sekedar kenangan indah. Kini. 
 kawan,
kenalkan abal-abal si laba-laba besarnya serentang telapak balita darimana asalnya tak terduga
kali pertama saya dibuat terpana bagaimana kalau ia loncat ke muka? atau merayapi kulit telanjang saya
maka saya usir dia membabibuta abal-abal loncat sini loncat sana sebelum sembunyi entah dimana
kali kedua saya tlah waspada tapi abal-abal malah mengiba sekan meminta suaka
ok, tapi ada syaratnya jangan ganggu kegiatan mandi saya. dan abal-abal bagai bersorak gembira
kali berikutnya saya jadi terbiasa tiap mandi kini tak perlu curiga abal-abal hanya muncul kalau diminta
;p
nb: adik saya bilang hitung saja kakinya, kalau ganjil berarti abal-abal itu jelmaan jin. penasaran saya panggil abal-abal keluar dan memotretnya sebelum ia sembunyi lagi. saya hitung kakinya, ada enam. ternyata abal-abal itu hanya seekor laba-laba cacat. poor lil' fella :(

friday night. rush hour. traffic jam.
[cellphone vibrates]
halo? halo, Badai? dimana lo? di jalan, otw home, aya naon neng? [trilingual mode :)] gw lagi di plangi. tau gak seh tau gak [gossip mode] gw baru ngeliat co pake kemeja coklat celana coklat dan sosoknya mirip abis sama lo. makanya gw telp lo sekarang buat mastiin.
saya menunduk sejenak, menatap busana serba coklat yang sedang dikenakan
you know what, gw juga hari ini pake kemeja coklat celana coklat sepatu coklat celana dalem baru hihihi gak penting kali... btw yang jelas hari ini gw sudah melihat satu orang kembaraga lo ya bow! tul, dengan catatan dia juga mesti super ganteng seperti gw [narcist mode]
ah, kawan saya yang satu ini [ce/lajang/always available/cantik menurut dia/mungkin cantik menurut saya] sejak dulu amat sangat percaya bahwa di bumi ini pasti ada 7 orang dengan kemiripan fisik/sosok yang sama. saya biasa menyebut hal ini dengan istilah 'kembaraga'. dan para 'kembaraga' ini tidaklah selalu harus mirip seperti orang kembar identik, tapi setidaknya punya sosok/performance/appealing yang nyaris sama satu sama lain.
saya sendiri sebenarnya gak begitu peduli gak begitu percaya sama aliran kepercayaan 'kembaraga' ini, tidak sampai setelah kawan saya tadi menelepon, hingga mau tak mau saya pun menggali keping2 memori yang ada hubungannya dengan fenomena tersebut. samar2 penggalan2 kejadian pun mulai membayang...
setting: Jambore HKSN, Cibubur saksi hidup: Oco Suroco, rekan satu tim fasilitator kesaksian: "teman sekolah gw dulu amat sangat mirip dengan lo, makanya pas pertama ketemu lo tadi gw udah merasa familiar aja sama lo"
setting: Patas AC Mayasari Bakti saksi hidup: Achmad Rivani, classmate waktu smp kesaksian: "mantan boss gw, masih muda, lajang, pinter, kaya raya, asli sosoknya tuh lo banget"
setting: Kamp pengungsi korban kerusuhan Sampit, Pontianak saksi hidup: Harsono, local guide kesaksian: "para pengungsi di sini amat berbahagia dengan kunjungan pak artis ke sini" "huh? pak artis?" [saya bingung dipanggil pak artis] "loh, bukannya anda artis sinetron itu?" [maap, saya gak mau sebut nama, secara gw anti sinetron, yikes...]
setting: Balai Sudirman saksi hidup: saya sendiri & bbrp org kawan kesaksian: [he must be handsome, looks very classy in a fancy azzure suit, prada eyewear if i can tell, and holding hand tightly with a beautiful lady, dan saya langsung ngeloyor keluar ballroom, feeling awkward and awfully bizzare]
setting: Plaza Semanggi saksi hidup: kawan ce saya tadi kesaksian: ya itu tadi, super ganteng dengan stelan serba coklat ;p
OMIGOD, hitung punya hitung, berarti sudah ada 5 orang yang diketahui punya kemiripan dengan saya. 5 detected people + myself + 1 undetected person = 7 kembaraga
...dan 7 kembaraga yang bergabung bisa menyelamatkan dunia! [tadaaa]
well, mungkin inilah rahasia hidup yang harus saya ungkap. dimana misi yang saya emban selanjutnya adalah menemukan seorang kembaraga lagi, the seventh element, untuk melengkapi jadi 7.
then mission accomplished!

k a w a n tadi pagi saya teriris silet lagi . berdarah lagi . [ouch, what the @$!%] . tapi yah, mungkin ini konsekwensi dari kealpaan saya untuk mengganti pisau cukur yang sudah aus . atau mungkin solusi paling gampang, membiarkan godek saya tumbuh kembali . kamu pasti masih ingat kawan, resolusi terakhir saya yang terikrar adalah tampil klimis, dengan crew cut tanpa cambang/brewok/godek atau apalah namanya . secara pertumbuhan rambut di wajah saya cukup pesat, mengharuskan saya melakukan ritual shaving setiap pagi setiap 1x24 jam . [saya punya tiga pisau cukur: pertama untuk pemakaian sehari2, kedua bersemayam dalam travel kit yang selalu saya bawa kemana2, ketiga yang saya sediakan cuma2 untuk adik saya yang ternyata diam2 suka sharing pisau cukur saya] . mungkin itu sebabnya pisau cukur kategori pertama saya cepat tumpul dan terkadang suka menimbulkan luka gores di wajah . padahal hanya perlu diisi ulang mata pisaunya saja . dan barang sekecil itu selalu saja terlupa setiap saya membeli sesuatu di toko misalnya . [faktor umur? xixixi] . ok then, luka tadi bisa teratasi dengan sapuan aftershave splash, meski perihnya tak terkira . but hey, wait a minute... [clak clak tetes terakhir] . dengan setengah hati saya menyingkirkan botol kosong itu dan beralih pada my-least-fave-aftershave lain yang berupa lotion . omigod, rasanya berminyak sekali di wajah, pastinya karena efek moisturizer . inilah akibat terlalu cepat termakan rayuan mbak2 spg dan membeli barang yang belum tentu cocok sama kita . padahal saya sudah terbiasa menggunakan aftershave beralkohol . [damn!] . maka, setelah disaster kecil pagi ini, saya memutuskan untuk menumbuhkan kembali godek saya . setidaknya untuk meng-eliminir resiko cidera pada wajah, dan menghindari keharusan saya mengingat2 barang apa yang harus dibeli kalau sedang di toko . :p maafkan saya hanya bertahan dua minggu dengan wajah klimis saya . maafkan kalau kamu belum sempat melihat wajah klimis saya . maafkan saya ya [japanese style] . s a y a
Hepi belsday tuyul.. Hepi belsday tuyul..
Gubrax! Pagi2 udah dinyanyiin lagu Happy Birthday sama Nyi2, keponakan paling bandel dan lucu dan nyeleneh dan liberal. Wah, biarpun nyanyiannya kacau balau, tapi toh tetap mengundang tawa, dan pagi ini saya dapat memulai hari baru dengan senyum cerah.
Ulang tahun bagi saya adalah titik nadir. Kala untuk memulai sesuatu dengan lebih baik, entah sudah dilaksanakan atau belum. Ucapan happy birthday sudah mengalir, bahkan sejak beberapa hari sebelumnya (ya.. ya.. berkat jasa Friendster dan milis2 yang mengumumkan tanggal kelahiran saya, thanx anyway). Teman2 lama kembali mengingat dan menjalin kembali silaturahmi yang sempat terputus. Teman2 baru pun akhirnya mengetahui dan mengirim ucapan2 penuh doa. Also special thanx for someone yang sudah memberi keceriaan di hari2 datar saya belakangan ini ;p
Now I would like to grab my friends, to keep them in circle. Dulu saya susah punya teman-a school geek-pemalu-tinggi-kurus-item-jerawatan (sekarang juga gak beda jauh seh, cuma statusnya udah jadi 'an office geek' aja). Makanya 'berteman' menjadi sesuatu yang berarti bagi saya sekarang. Makanya saya mau me-maintain mereka semua agar bisa berdayaguna dan bermanfaat ;)
Seperti biasa ibu tercinta memberi kecupan sambil mendoakan, "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, murah rejeki, dan enteng jodoh." Saya meng-amin-i sambil mesem2. Wah maksud ibu pasti sudah bisa ditebak, but thanx anyway. Doa ibu kan yang paling ampuh.
Keasyikan berteman menjadikan saya lupa berjodoh? Gak juga seh, prinsip saya 'let it flow' aja. Whatever will be, will be. Gak ada yang dipaksakan, dan terutama saya tidak mau merasa terpaksa. Prinsip saya adalah 'takkan lari jodoh dikejar' ;D
O jodoh, where art thou?
| |