' Badai's posts with tag: [kilas]kasus
Selebaran itu saya temukan di bawah meja kerja. Sehelai leaflet promo untuk film Kun Fayakuun yang dibintangi oleh Agus Kuncoro dan Desi Ratnasari.
Haji Dhony sahabat saya sejak SMP,suatu hari saya main ke kantornya,dan diceritakan tentang film "Kunfayakuun".Subhanallah,sesampainya di rumah,apa yg diceritakan tentang kekuatan sholat wajib yang tepat waktu,sholat tahajjud,dhuha,puasa senin kamis dan sedekah,pelan-pelan saya terapin pada diri saya dan istri,saya mendengar resensi film "Kunfayakuun" yang begitu menginspirasi saya.Maka cara saya berdoa pun berubah.Apa yang saya inginkan saya sebutkan di saat saya berdoa kepada Allah.Alhasil,6 bulan kemudian,apa yang saya ucapkan dalam doa,diberikan oleh Allah SWT.Alhamdulillah sekarang saya punya mobil impian saya.BMW. b. subagja - SUTRADARA KLIP
Testimoni itu berjudul "Doa untuk Mobil Impian". Ada pula testimoni lainnya tentang doa yang terkabul untuk mempunyai rumah mewah, dan juga kesaksian seorang kru film "Kun Fayakuun" yang akhirnya berjodoh dengan istri cantik dan berjilbab setelah dia mengamalkan ibadah dengan tekun.
Apa yang kemudian membuat saya leng-geleng-geleng-kepala setelah membaca leaflet tsb? (beri tanda silang pada kalimat yang tepat)
( ) banyak nyamuk sama laler ijo ( ) lagi dengerin lagu Metal Vs Dugem-nya Project Pop (X) adanya kerancuan tentang shalat/beribadah demi pamrih duniawi (X) bahwa doa pasti dikabulkan (meminta BMW/rumah mewah/istri cantik & berjilbab) (X) lagipula kenapa harus cantik & berjilbab? bukankah lebih baik jika cantik & salehah? (X) tata bahasa yang kacau (EYD nggak, gaul nggak) termasuk kaidah penulisannya (X) Desi Ratnasari berperan sbg orang miskin tapi teteup tampil dgn make-up lengkap ( ) karena brosur seindah itu tergeletak begitu saja di bawah meja kerja ( ) ya amplop, emangnya lagi ngapain sih di bawah meja kerja? ;p ( ) lainnya.....
Overall, adalah keagungan Allah SWT untuk menjadikan apapun itu, ada dari tiada, mungkin dari tidak mungkin, fana jadi nyata. Apa yang terjadi terjadilah, tapi yang jelas bukan begini cara pengejawantahan kebesaran-Nya dalam bentuk promo film!
Btw, ada yg pernah nonton filmnya? Tell me about it...
 | AADAAC | Mar 17, '08 1:06 AM for everyone |
...alias Ada Apa Dengan Ayat Ayat Cinta. Walaupun saya belum pernah menonton filmnya, tapi ada satu komentar teman yang membuat saya tergubrak-gubrak mendengarnya: "kambing".Di balik semua pujian seputih salju atau kecaman setajam silet tentang film AAC, teman saya ini cuma merasa terganggu oleh penampakan kambing di film tersebut. Kenapa? Katanya itu kambing Indonesia, dan dia bersikeras bahwa kambing yang tinggal di luar negeri itu sosoknya berbeda."Kan syuting di India, berarti mereka memakai figuran kambing India dong," sergah saya."I can tell! " teman saya meyakinkan. Katanya kambing luar negeri itu lebih modelesque (meminjam padanan kata yang menggambarkan kaki jenjang kuat dan struktur tubuh yang kokoh), selain itu berbeda pula dalam hal corak dan struktur kulit, juga odor alias aroma tubuh.Olala, bau badan kambing juga berbeda ya?"Seharusnya," dia meneruskan tanpa mengindahkan ledekan saya, "Hanung mengambil gambar kambing gurun, atau kambing yang biasa hidup di tebing."Well-well, omongan teman saya itu sedikit banyak memengaruhi persepsi saya tentang kambing selama ini. Mungkin saja kambing di Mesir/Timur Tengah itu memang berbeda daripada kambing di India/Indonesia. Sesuai kultur timur, kambing di sini pastinya lebih ramah dan murah senyum dunk... si kambing diunduh dari sini Enuff said . Kembali ke topik AAC, kunjungan terakhir saya ke toko buku mencatat perkembangan signifikan akan maraknya buku-buku bertema serupa:Bait Bait CintaDzikir Dzikir CintaSabda Sabda CintaKasidah Kasidah CintaSelanjutnya apa lagi??? Terlepas dari isi buku-buku tersebut yang mungkin saja lebih indah dari buku Ayat Ayat Cinta, saya cuma mau bilang: "Kreatif dikit, nape?"Mendingan juga makan sate kambing!
 | FuckTA | Dec 12, '07 1:17 AM for everyone |
Syahdan, ketika membaca harian lokal Radar Bogor, mata saya tertohok pada jurnal Sea Games XXIV di Thailand. Tepatnya pada kolom perolehan medali.
Thai Viet S'pore Malay Filip INDON ... dst
Hiks, saya lupa sejak kapan Indonesia terpuruk begini khususnya dalam bidang olahraga. Sejak reformasi? Yang jelas sejak Indonesia kepayahan mengumpulkan medali, sejak itu pula saya kehilangan minat untuk menyaksikannya.
Tapi saya masih ingat betul, DULU Indonesia itu hampir selalu pasti merajai arena Sea Games. DULU saya selalu antusias menyimak jalannya pertandingan, berapa jumlah medali yang diperoleh dari hari ke hari, dsb. DULU musuh bebuyutan cuma Thailand, itupun jumlah medali yang diperoleh masih terpaut jauh. DULU saya sempat memimpikan kalau Indonesia bakal menjadi musuh bebuyutan Cina di ajang Asian Games.
Tapi KINI????
Hei, bahkan Vietnam yang DULU termasuk papan bawah KINI sudah melesat unggul dalam perolehan medali. Terlepas dari para atlet kita yang sudah mati-matian membela negara, faktanya perolehan medali Indonesia memang sedikit. Berarti negara lain sudah lebih unggul. Itu saja.
"Maaf, kinerja KONI sudah maksimal, cuma anggaran pemerintah saja yang kurang." "Pemerintah sudah memberi hak otonomi pada masing2 daerah untuk mencetak bibit unggulnya sendiri dan melahirkan atlet2 unggulan bangsa." "Atlet sekarang lebih manja, hanya mau berlatih jika fasilitas terpenuhi." dsb dst ... .. .
Terbayang sudah macam2 alasan tadi, padahal saya cuma mau jawaban, cukup satu jawaban, bilang saja OK! *halah, jadi nyanyi lagunya T2, kkkkk!*
Saya cuma mau bilang fakta bahwa DULU Indonesia bangsa besar dalam bidang olahraga. IMHO, KINI Indonesia cuma namanya saja yang besar.
Saya si skeptis pun melipat koran sekenanya. Sebelum beranjak pergi saya melihat kolom yang belum sempat terbaca: DPRD PERTANYAKAN KEPERGIAN 15 ORANG PEJABAT PEMDA KAB. BOGOR KE THAILAND Keberangkatan mereka dalam rangka mendukung atlet daerahnya. Padahal jumlah atlet dari kab. Bogor sendiri kurang dari 15 orang.
Hwarakadah!
'Aku Menanya Kau Menjawab', adalah rubrik tanya jawab interaktif bagi para pengunjung duabadai.multiply.com ;pBisa dibilang, sempalan hidup untuk berbagi. Satu tanya dengan banyak jawab. Siapapun dipersilakan menjawab (boleh salah satu ataupun semua pertanyaan), asalkan tidak OOT, apalagi menyinggung SARA. Selamat menikmati AMKM!Catatan:Semua kejadian dalam rubrik ini adalah nyata, kecuali nama samaran pengirim (dicetak miring) yang memang sengaja dibuat2 demi keperluan rating ;p>> Religi Waktu itu saya sedang berpuasa. Selepas subuh, saya tertidur dan kemudian bermimpi sedih. Ceritanya saya menjadi duta Unicef [obsesi kebawa mimpi, hehe], dan sedang mengunjungi anak2 terlantar di pengungsian. Kondisinya sangat mengenaskan. Seorang anak yang menderita busung lapar tampak terpuruk sekarat di hadapan saya.Begitu terharunya sampai dada saya sesak hingga kemudian mendadak terbangun. Air mata sudah meleleh di kedua pelupuk.Apakah puasa saya batal karenanya?(Ferry Salim wannabe)>> Kesehatan Gw bete soalnya kalo bersin kadang2 bisa lebih dari 7x non-stop, sampai mengeluarkan air mata. Dan gw pernah baca bahwa setiap kali bersin jantung kita ikut berhenti berdetak selama sepersekian detik. Hadoooh, berarti kalo misal 7x bersin maka jantung gw pun ikutan 7x berhenti berdetak. Seyeeeem.....Pertanyaan gw banyak neh:- Benar gak sih begitu faktanya, dan apa pengaruhnya bagi kesehatan gw?- Apa penyebab bersin tak berhenti, dan adakah penyembuhnya?- Kenapa air mata ikut keluar?- Apa bedanya bersin dan berbangkis?(Mr. A)>> Tata Bahasa Mana penulisan yang benar: airmata atau air mata?(soal ujian dari JS Badudu)
Liburan lalu saya bertamasya keliling kota, naik delman istimewa. Hehe, anyway, akhir pekan beberapa waktu lalu saya habiskan di alam terbuka, di samping pak kusir yang sedang bekerja ;p
Iya-iya, sudah cukup bercandanya, intinya waktu itu saya sedang ingin menikmati kehijauan rumput, gemercik air, kicau burung, dan pokoknya elemental alami lainnya. Tantangannya adalah, saat itu saya cuma berada di dalam kota Jakarta. Adakah tempat yang dimaksud?
1st destination: Taman Lembang Terletak di kawasan Menteng, di tengah2 kompleks perumahan, taman ini mempunyai kolam air mancur di tengah-tengahnya. Rerumputan terpangkas rapi, tempat duduknya dari beton yang dicat warna-warni mengelilingi kolam, dan ada banyak tukang jajanan (sayangnya tidak diimbangi dengan cukupnya keberadaan tempat sampah). Air mancurnya besar, gemercik airnya menggema seantero taman. Sayang air kolamnya berwarna keruh kecoklatan. Oya, di sudut taman pun terdapat beberapa ekor monyet yang dipelihara di sana, cukup menghibur sebagai atraksi tontonan. Tipikal pengunjung beragam: keluarga, kakek-nenek, anak-anak, pasangan sah dan tak sah, dll. Atmosfernya lumayan tenang, cocok buat relaksasi, melamun cari inspirasi, ataupun sekedar ngintip orang pacaran ;p
2nd destination: Taman Kodok Ehm... sebenarnya gak mampir kesini, tapi sempet ngelewatin plang namanya dua kali. Secara kami dikejar waktu, jadi di-skip dulu. Next time deh. Dalam bayangan saya, Taman Kodok berupa hamparan rumput dengan danau mungil di tengahnya, dan banyak kodoknya. Jadi pengunjung bisa rebahan di rerumputan sambil mendengarkan bunyi2an kodok, serasa di desa gitu. Pastinya ada banyak patung kodok juga di sana. Benar begitu gak?
3rd destination: Taman Menteng Hooray, sebuah konsep taman modern di pusat kota, masih di kawasan Menteng. Taman ini punya gedung parkir sendiri, jalan2 setapak yang rapi dan bersih, dihiasi gedung2 kaca berbentuk prisma yang saat itu masih kosong (saya malah berharap gedung2 kaca itu digunakan sebagai science center saja). Sayang, kurang banyak tetumbuhan rimbun disini dibandingkan arena bermainnya (atau mungkin belum ya?). Di sisi lain, tidak ada tukang jajanan berkeliaran. Mungkin itu sebabnya tempat sampah pun langka di sini? Tapi kalau mau cari ketenangan sebaiknya jangan disini, karena tipikal pengunjung didominasi pemuda-pemudi yang ramai bermain futsal, voli, skateboard, dll. Tampaknya taman ini lebih cocok buat mengasah sportivitas, sekaligus ajang gaul kawula muda ;p
4th destination: Taman Lawang Gara2 jadi tempat mangkal waria setiap akhir pekan, akhirnya wilayah ini jadi berkonotasi mesum deh. Seriously, mari kita lihat dari perspektif taman itu sendiri. Lake. Checked. Trees. Checked. Scenery. Checked. Tinggal pedestrian ditata ulang, rerumputan ditata rapi ditambah bebungaan, penerangan jalan maksimal, kasih tempat sampah yang banyak. Jadilah taman yang paling indah, hanya Taman Lawang. Err... tapi secara waria masih setia mangkal di sana, sepertinya lupakan dulu konsep taman indah itu. Cabuuut!
Ok, sejauh ini ketahuan banget kalo orang2 kota, khususnya Jakarta tuh butuh banget sama yang namanya taman. Tempat dimana kita bisa bersosialisasi ataupun menyepi, meresapi secuil alam bebas dimana masih ada air, tanah, tumbuhan, satwa, udara terbuka, langit biru, dan pastinya gratis. Secara konsep back to nature itu sendiri emang sudah naluri alamiah manusia.
Hikmahnya saya jadi semakin merindukan nuansa alamiah itu sendiri, tempat dimana kita bisa menjadi diri sendiri, kebebasan berekspresi, menyatu dengan suasana sekitar. Dan kerinduan itulah yang membawa kami pada tujuan terakhir kali ini:
.....
....
...
..
.
5th destination: Karaoke, anyone? Hyuuuk!
*langsung meluncur ke Sarinah*
So sweet... but wait a sec--dengan siapa dulu?
...
Kawan saya resah. Sewaktu tugas keluar negeri, ia meminjam ponsel sang ayah. Tak sengaja terbaca olehnya beberapa SMS mesra antara sang ayah dengan seorang wanita yang selama ini dikenal sebagai rekan bisnis beliau. Tak tahu ia hendak mengadu kepada siapa. Kepada saya ia mengungkapkan keresahannya.
Kawan saya yang lain gundah. Sang ibu, kebetulan sudah menjanda, sedang intim dengan seorang pria yang tinggal di luar kota. Sayangnya, pria itu itu sudah beristri dan beranak-pinak. Kawan saya tidak mau jika sang ibu sampai mengganggu rumah tangga orang lain. Kepada saya ia menceritakan kegundahannya....Komentar saya dalam beberapa perspektif:Saya si toleran"Sabar ya, kita berprasangka baik aja dulu, gak usah pikiran macem2, bla bla bla..."Saya si liberal"Kalau memang cinta ya susah. Ortu juga kan manusia." Saya si logis"Luv or lust?"Saya si bijak"Mau cinta mau nafsu, intinya pengendalian diri."Saya si jalang"Sometimes some people just can't get enough."Saya si naif"Ortu itu udah dewasa kok, mereka pasti tau batasannya."Saya si sarkastik"Age ain't nothing but a number. Semua ortu pasti lebih tua, tapi bukan berarti mereka bisa bersikap lebih dewasa."Saya si pesimis"Ya susah deh kalo udah menyangkut ortu, mau kita protes segala macem juga tetap mereka hirarkinya lebih tinggi."Saya si kritis"Bilang aja terus terang ke ortu. Soal nanti lo diamuk atau apa, yang jelas beliau sudah tau bahwa anaknya tau." Saya si romantis"Gw tau lo malu, tapi apapun itu, cinta ortu ke lo gak berkurang kan?"Saya si empati"Wahai pembaca, ada masukan lain buat menenangkan hati dua kawan saya tersebut?"

Teman, kau dimana? Panggilan tak terangkat, pesan tak berbalas. Marahkah kau pada saya? Atau malu?... Awalnya kau pintaku datang, memelas karena dikejar waktu, dan meminta dibuatkan dua buah desain begini begitu. Pada mulanya saya enggan karena waktu yang terbatas. Namun setelah beberapa penyesuaian (dan melihat betapa tak berdayanya dirimu di bawah kejaran deadline), akhirnya kita pun sepakat berkongsi.
Saya sudah dua kali menanyakan tentang perjanjian kerja, dan sudah dua kali pula kau yakinkan saya bahwa hal itu bisa diatur belakangan. Deadline sudah didepan mata. Apalagi kau pastikan bahwa dirimulah yang memegang proyek ini. Dan saya percaya.Itulah kesalahan saya.Jangan pernah percaya siapapun, termasuk teman baik, untuk urusan bisnis tanpa hitam di atas putih. Hukumnya mutlak.Demikianlah, cuma dalam tiga hari saya menuntaskan pekerjaan darimu terlebih dahulu. Lengkap dengan 4 buah bonus desain hasil pengembangan dari materi dasar yang kau inginkan.Plus logo perusahaan yang saya perbaiki dalam format freehand, jpeg dan png sekaligus, karena sebelumnya kau cuma punya format jpeg in poor quality. Semuanya saya lakukan tanpa pamrih, karena kau teman baik saya.Serah terima pun dilakukan, yang mestinya dilanjutkan pembayaran tunai. Ternyata kemudian katamu dana belum cair, jadi honor saya belum bisa dibayarkan. Ya sudah, saya percaya saja. Pesan saya, kasih kabar saja kalau uangnya sudah ditransfer.Seminggu lebih berlalu ketika kau kabari bahwa dari dua materi desain yang dipesan, cuma satu buah yang akan dipakai, jadi honor saya cuma dibayarkan setengah. What???Mestinya kan kalau sudah pesan dua loyang chocolate devil, ya pemesan tetap harus bayar seharga dua loyang dong (itu sih sudah resiko pemesan kalau yang satu loyang mau termakan atau tidak). Kan logikanya begitu.Kecewa memang, tapi berhubung tak ada bukti tertulis, maka saya tidak mau memperpanjang masalah. Walau bagaimanapun kau teman baik saya. Lagipula kau bilang pembayaran akan dilakukan secepatnya.Seminggu lebih kembali berlalu ketika iseng saya cek rekening, ternyata ada uang masuk sejumlah seperempat honor yang kau janjikan. Merasa tidak yakin, saya coba konfirmasi pada dirimu. Tanpa beban kau bilang, kantormu akhirnya memutuskan cuma memakai satu dari 4 buah bonus desain yang saya buat. Jadi saya cuma dibayarkan seperempat.Padahal saya sama sekali tidak mengenakan charge tambahan untuk bonus desain, yang saya minta awalnya cuma pembayaran untuk dua buah desain utama sesuai pesanan. Jadi dengan kata lain, jika saya memberi bonus 10 buah desain, dan cuma dipakai satu, maka saya cuma dihargai sepersepuluh dari kesepakatan harga, begitu?
That's it! Perhitungan macam mana ini? Benar-benar pelecehan profesi. Saya tahu intonasi suara saya meninggi sewaktu berkonfrontasi mengenai hal ini.Entahlah, mungkin kau tersinggung, ikut marah, ikut kesal, ikut bersalah, saya tidak tahu. Tapi yang jelas sejak saat itu kau tidak bisa lagi dihubungi.Sebenarnya saya bisa datang ke kantormu, dan meminta kejelasan masalah ini. Tapi kedudukan saya lemah karena tiada bukti hitam di atas putih. Lagipula saya tahu pasti kau akan menanggapi kedatangan saya dengan kepala tidak dingin sehingga intonasi suaramu akan meninggi dan mukamu yang putih itu akan memerah dan rekan2 sejawatmu akan memerhatikan dan petugas sekuriti akan berdatangan, jadi saya putuskan untuk tidak bertandang ke sana. Tidak lagi.... Padahal teman, masalah honor itu kini sudah saya ikhlaskan. Saya sudah mendapat pelajaran dari kesalahan. Biarlah Yayasan Sosial tempat kau bekerja itu mendapat berkah biar bisa terus berderma. Saya cuma mau kau tahu, saya sedih karena niat baik untuk membantu dirimu malah berujung pada retaknya pertemanan kita.

 | Ironis | Oct 2, '06 1:25 AM for everyone |
pedagang tersenyum puas stok habis sehari bisa ludes dua kardus ramadhan membawa berkah
pembeli tersenyum bahagia pulang membawa hadiah buat santapan rohani ramadhan membawa hidayah
cd-vcd islami laku keras semuanya bajakan
adakah berkah? apakah hidayah?
Kawan saya di Qatar menulis begini:
Ramadhan dan Lebaran menjadi momentum bagi kaum muslim untuk saling bermaafan. Tapi sudah budaya/kultur orang Indonesia lebih banyak MEMINTA dari pada MEMBERI, apalagi kalau ada yang GRATIS. Mumpung ada email/milis/sms berlomba-lomba semua merilis ucapan maaf. Coba dianalisa dua ucapan Ramadhan/Lebaran dari dua bangsa yang kulturnya berbeda:
Ucapan di Indonesia intinya MEMINTA: MOHON MAAF LAHIR BATIN Ucapan di Qatar intinya MEMBERI: SETIAP TAHUN, SEMOGA ANDA DALAM KEADAAN BAIK* Note: *Kullu Am Wa Antum Bi Khair, diterjemahkan: Setiap tahun Anda/Sahabat semoga selalu baik Tentu masih ingat sebuah hadist yang isinya: MEMINTALAH KAMU HANYA PADA ALLAH. Tentu masih ingat pepatah bijak yang menyatakan: MEMBERI lebih baik daripada MENERIMA. Selanjutnya terserah mau pilih yang mana??? Bagi saya yang lebih mulia adalah selama masih ada masa datangilah rumah TETANGGA/TEMAN/SAUDARA dan SALING MEMBERI MAAF (bukan minta maaf). Atau setiap habis shalat berjama'ah saling MEMBERI MAAF (sekali lagi bukan MINTA MAAF).
Salam
Saya, kawannya di Indonesia, menulis begini:
Mungkin sudah kultur orang Indonesia untuk memposisikan diri sebagai orang yang humble, nrimo. Tekanan penjajah selama ratusan tahun tak pelak mendoktrin pemikiran orang Indonesia sebagai obyek yang diterangkan daripada subyek yang menerangkan. Sekarang pun kita masih terjajah oleh kaum birokrat dan kapitalis. Tak ayal, ucapan 'aku memberi' terdengar lebih angkuh daripada 'aku meminta'. Orang Indonesia terbiasa menghambakan diri untuk menerima daripada menuankan diri untuk memberi. Dengan kata lain 'rendah hati', mungkin.
Saya pribadi lebih menghargai niat orang ybs daripada sekedar ucapan yang terlontar.
Akhirul kata, apapun ucapannya, minumnya teh botol sosro :)
Salam
Kemarin saya lihat di TV mengenai penggusuran perumahan liar di bawah jembatan layang Cengkareng. Ada seorang ibu berteriak2 histeris, "Ancurin aja rumah2 di sini! Bakar aja sekalian! Biar Rahasia Illahi yang akan membalasnya! Biar bapak2 kamtib semua kena Rahasia Illahi biar pada nyesel!"
...
Sehari sebelumnya saya temu kangen dengan kawan2 kampus. Salah seorang kawan tampak tidak menikmati reuni kami karena diganggu terus2an oleh sms istrinya. "Sialan! Istri gw bawaannya curiga melulu, setiap suami keluar rumah pasti di-cek tiap 10 menit! Pasti kebanyakan nonton Hidayah!" gerutunya.
...
Beberapa hari sebelumnya, seorang kawan yang beda keyakinan dengan saya bertanya dengan nada prihatin, "Heran, apakah Allah penuh azab begitu?" Rupanya ia kerap melihat cuplikan2 sinetron religius yang tengah booming di TV.
...
Jadi mau menyalahkan sinetron? Di luar kualitasnya yang 'kurang mumpuni' sebagai karya seni, mungkin cerita dari sinetron itu sendiri memang mengandung makna/hikmah. Tapi sayang semua digarap seadanya, secara faktor kejar tayang, sehingga kuantitas mengalahkan kualitas. Padahal mayoritas penonton Indonesia masih menyerap mentah2 apapun yang ditayangkan di TV. WYSIWYG. Tanpa filter. Tanpa pikiran (atau mungkin males mikir). Jadi kalau ada penggusuran rumah liar maka bapak2 kamtib niscaya akan mendapat azab pedih karena telah menganiaya kaum lemah. Jadi kalau ada cerita suami menyeleweng maka semua pria pasti melakukan hal yang sama. Jadi kalau setiap azab diekspos 'dengan ciamik' di layar kaca, maka jangan salahkan kalau timbul persepsi keliru tentang suatu agama dan Sang Esa sendiri. Dan saya yang pada dasarnya memang antipati dengan sinetron cuma bisa bilang, "Tuh kan, gara2 sinetron..."
Changi Airport terpilih sebagai bandara terbaik di dunia, menyusul Hongkong sebagai runner up. KLIA di Malaysia juga berada di urutan 10 besar.
How about Indonesia??? IN YOUR DREAMS!!!
Setidaknya untuk saat ini.
Terakhir saya kesulitan hendak membuang sampah bungkus Fisherman's Friend. Lokasi saat itu di check-in counter Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bagai agen spionase [kalau tidak mau dibilang teroris] mata saya memindai sepelosok ruang, delapan arah mata angin saya telusuri, namun tak satupun sosok tempat sampah terlihat. Sayang saya belum punya GPS untuk melacak koordinat makhluk tak hidup itu [pun kalau punya, apakah tempat sampah itu akan ada?]
Dalam sepersekian nano detik muncul dua solusi: [1] the good way: memasukkan bungkus Fisherman's Friend itu ke dalam saku dan membuangnya nanti kalau ada tempat sampah [2] the typically Indonesian way: meremas-remas bungkus Fisherman's Friend itu hingga menjadi bulatan kecil, lalu singkirkan saat itu juga, toh tidak akan ada yang memperhatikan, toh CCTV di sana juga hanya sebagai dekorasi tak berfungsi sama sekali
Kyaaaaa inilah dilema saya. Saya paling keukeuh tidak mau ada sampah apapun di saku, tas, atau apapun yang saya kenakan, walaupun sampah itu hanya sekedar bungkus Fisherman's Friend. Selain itu saya juga tidak mau dicap tipikal Indonesia. Saya membuang sampah pada tempatnya, tapi masalah hidup di Indonesia adalah tidak selalu tersedia tempat sampah, bahkan di bandara internasional sekalipun. Jadi gimana?
Akhirnya saya menitipkan bungkus Fisherman's Friend itu pada petugas counter Cathay Pacific ["Terima kasih, mbak2 yang baik!"]. Semoga mereka mempunyai tempat sampah sendiri di balik counter desk.
O sampah kecilku. O bandaraku. O Indonesiaku.

kawan,
tempo hari saya antar klien singgah sejenak di jesslyn cake & pastry, dan kebetulan di sana sedang ada promo 'roti artis' seperti yang akhir2 ini diberitakan media
umm...xcuse me, 'roti artis'?
itu loh aneka roti produk jesslyn yang diberi nama oleh para artis, misalnya aja 'sarah swaffle' trus ada foto sarah azhari di display raknya
ooo strategi penjualan mungkin? laris manis tak?
i don't think so. frankly speaking it's such a waste
kenapa?
jesslyn cuma buka outlet di tempat nongkrong kaum atas spt dharmawangsa square or pim 2
emang kenapa?
like they care? berani taruhan para konsumen ini pasti gak tau sama sebagian seleb yang ikutan program roti artis ini [ya artis2 sinetron gak penting gitu deh..]
faktanya gimana?
[1] adem ayem aja tuh [2] apa yang konsumen jesslyn beli, lebih karena variasi rasa, bukan karena ada emblem2 artis [3] klien saya malah nanya2 begini 'ini siapa? itu? emang dia artis? huh, ada roti isi pisang ferry salim?' akhirnya dia berpaling beli roti jenis lain yang korelasi nama dan bentuknya lebih nyambung dan gak bikin bingung
bagusnya gimana?
buka outlet di mall/itc di pinggiran jakarta misalnya, dimana segmentasi pasar lebih tepat, pengunjung yang sebagian kaum urban di sana pasti lebih peduli-lebih ngefans-lebih agresif sama artis2 infotainment, pasti pada bela2in antri deh [syarat: harga dikurangi dikit ya biar sesuai dengan kemampuan kantong mereka juga]
tapi menurunkan status jesslyn dunk kalo buka di sana?
makanya saya bilang ini strategi yang keliru karena konsumen jesslyn kan kelas menengah ke atas
strateginya mungkin bagus, tetapi mungkinkah pemilihan artisnya yang keliru?
like i care? btw kabarnya para artis ini ikut dapat royalti penjualan roti juga loh
wah enaknya jadi artis!
kenapa juga royalti gak disalurkan buat greenpeace, peta, wwf, or korban gempa misalnya?
ya berprasangka baik sajalah, siapa tau para artis ini juga turut menyumbangkan royalti mereka
wah mulianya jadi artis!
saya,
si mulut besar
| |